hari ini aku akan pergi
kemana entahlah
barangkali ke sebuah rumah beratap tanah
dimana leluhurku sedang istirah
di mana kelak kau juga akan singgah
tapi sebelum pergi
ada yang hendak kuberikan padamu
sebutir batu
yang dulu kau lemparkan ke kolam hatiku
lewat ciuman pertamamu
batu itu bernama rindu
selama ini
ia mengajariku cara bertahan dan menunggu:
tak melunak saat air kolam beriak
tak gemetar walau rebah di dasar
hanya bersabar
meski tak pernah melihat
matahari tenggelam dan bersinar
namun sekarang
setelah tiba
waktuku untuk pulang
kukembalikan ia padamu
agar kau juga dapat belajar sesuatu apapun itu
agar semua yang kubawa hanya milikku
sebagaimana dulu
saat aku
datang padamu

februari, 2006
Inggit Putria Marga dalam Festival Mei ; Antologi Puisi
pertama adalah sajian pemandangan taman yang apik, dengan dekorasi air mancur, yang diapit gazebo (yang dijadikan pos petugas) dan lapangan olahraga. pemandangan lainnya adalah para lelaki dewasa yang berkostum biru. lalu lalang seriuh dengan ibu-bapak-perempuan-anak-remaja yang hendak berkunjung. para petugas cermat di dalam kantor mengurusi tupoksinya.
kedua adalah kesadaran bahwa lelaki dewasa berkostum biru adalah narapidana yang mengikuti crove. crove adalah salah satu program pembinaan, dimana narapidana dewasa bisa ikut serta bekerja menjadi ‘pegawai’ di kantor. tidak ada ketakutan seperti yang dikabarkan media. keramahan mereka mengalahkan petugas di kantor dinas daerah lain. kedua juga adalah kebaikan pegawai Rumah Tahanan dalam mengarahkan kami, menginformasikan, meluangkan waktu, dan senantiasa memotivasi kami. inilah yang melegakan hati.
ketiga adalah pertemuan pertama dengan anak binaan permasyarakatan. mencoba mengamati sikap dan kata-kata mereka menyeruakan simbol-simbol sisi hidup yang pernah mereka sentuh. rasa bukanlah flavor yang bisa dikecap lalu kamu tahu itu rasa apa. tetapi rasa ini adalah feel, sulit diucapkan sulit diterjemahkan. meroket dalam mengenali mereka, dalam sepersekian detik. kami melebur dalam tawa yang membahana. humor sungguh menyatukan segalanya. tetap saja, ada keluwesan dan rasa tanda tanya pada mereka.
“teteh, tidak takut ama kami? kami ini kan penjahat.”
kami tidak takut. kami mencoba menjadi kakak (secara tidak kami sadari) untuk mau mendengarkan setiap kata yang mereka ucap.
batasan rasa emosional terasa takkala kami mencoba menahan rasa ingin tahu. namun mereka justru begitu luwes dan polos.
“teh, kok ga nanyain kasus kami apa. kami sudah biasa kok ditanyain kaya gitu.”
hari itu. tidak ada rasa kekesalan. mereka adalah korban dunia yang tidak ramah pada mereka.
keempat adalah kisah obrolan seru dari berbagai pihak. memperkaya informasi dan pengalaman hidup kami. mendalami lebih dari sekedar melihat semata. menyadarkan atas sebuah nilai ketulusan dan kebaikan. kesadaran atas pentingnya untuk melihat semua sisi kehidupan orang lain.
kelima adalah memandang ia yang sedang sedang belajar membaca di ruang kantor. sorot matanya teduh penuh kepolosan. tekun belajar, walau tidak kami pahami bagaimana perasaannya.
keenam adalah memperpendek jarak. saling bercurah kisah dengan tatapan hangat. sesekali kami tertawa. sesekali kami terdiam sejenak. merenung. meredam rasa sakit masa lalu. hari itu manis, semanis permen kiss cherry yang kami makan bersama. ‘harapan itu masih ada’ begitu kutipan di bungkus permen kiss cherry.
(*) adalah nama kota kuno suku indian di Illinois
adalah tugas mata kuliah Metode Penelitian Administrasi, untuk membuat laporan Riset dan Praktik yang menghantarkan kami ke sebuah pengalaman baru. Rumah Tahanan.
Rumah yang bertembok besi tinggi menjulang, saban senin dan rabu, kami singgahi. bukan sekedar terkukung atas urusan macam dinas kami, namun menelisik, mencari, memahami suatu keadaan yang terpapar.
Di kosan,
pagi adalah bangun pagi dengan setumpuk pikiran atas rutinitas dan jadwal kuliah, serta ditenangkan dengan segelas air putih.
di kamar mereka,
pagi adalah bangun pagi dengan setumpuk perasaan ragu. apakah ada yang sudi berkunjung untuk mereka? atau akan mengutuki pasrah bila masih saja diam terkurung.
di kampus,
menjelang siang adalah sebuah pilihan untuk menentukan menu makan siang. melepas kelaparan dengan ditemani semangkok keriuhan suasana kantin kala itu.
di depan pintu Rumah Tahanan,
menjelang siang adalah cermat menyimak nomor antrian yang kelak disebut oleh petugas. melangkah masuk ke pintu si kotak besi. menanggalkan perangkat komunikasinya. dilabeli stempel berwarna hijau, tanda pengunjung bukan tahanan. menuju ke ruang tunggu, lalu dengan sigap dan rela diperiksa dengan perabaan petugas, memastikan semua siap menyambut kerabat yang dirindukan dunia.
di kota ini,
malam adalah kerumunan mahasiswa yang tumpah ruah dalam cerita hari-hari, tawa yang hambar, dan beban berat akan tugas esok hari yang menanti.
di kamar mereka,
malam adalah lelucon teater menghibur diri. dengan adegan pengadilan yang telah mereka lewati. tertawa sejenak. sejenak memotong waktu vonis mereka. walau mereka tahu, semua sia-sia belaka karena waktu akan tetap berjalan sama seperti kala mereka di luar. tidak akan mengubah keadaan. esok, tetap memandang besi. dan bertanya, apakah aspal di luar sana masih berwarna abu?
(*) adalah nama sebuah pedesaan sunyi di Rusia, yang saya sendiri tidak tahu bagaimana cara membacanya. kesunyian itu mengharuskan pemerintah bersedia membayar 115 juta untuk perempuan yang melahirkan anak kedua. kesunyian juga yang hadir dalam dinding-dinding hari mereka.

(SUTAN SJAHRIR)
……………aku yakin bahwa manusia zaman sekarang, yang kata orang pada umumnya sarafnya lemah, dalam keadaan yang serupa, pun sanggup menderita semua itu. aku tahu, bahwa manusia modern kelihatnnya terpesona oleh kejadian-kejadian seperti itu. pernah kulihat orang jatuh pingsan waktu menonton peristiwa-peristiwa semacam itu dipertunjukkan di layar bioskop, tapi bagiku hal itu tidak membuktikan apa-apa, sebab film adalah khayalan dan si penonton dipermainkan oleh fantasinya. sekiranya orang yang jatuh pingsan tadi menjadi salah seorang pelaku dalam drama yang sesungguhnya, maka ia pasti akan sanggup berbuat lain sama sekali daripada jatuh pingsan. hal itu tidak kuragukan. (25 Mei 1934)
hari ini. 2012. hal itu pun benar-benar mewujud dalam masyarakat kita bung!
…………. ya, tapi suatu Timur yang masih hidup dalam pergaulan masyarakat feodal, di mana tidak ada gangguan-gangguan yang terlalu besar dari lalu lintas modern; dimana berjuta-juta orang mempunyai banyak waktu terluang, sebab tidak ada yang bisa dikerjakan, bahkan untuk menghasilkan sepiring nasi sehari-hari pun tidak mampu ( 12 Maret 1937)
bung, (mungkin) melamun adalah bagian dari kontemplasi mereka.
kita bisa mengerti bahwa sekali-kali si penjajah itu iri hati kepada budaknya; kesabaran, memang suatu sifat yang bagus, dan sebenarnya boleh dikatakan bahwa si budak itu telah belajar menjalani hidupnya-artinya seni menyesuaikan diri dalam kehidupan-lebih baik daripada majikannya. meskipun begitu, sedikit sekali yang mau bertukar tempat. tapi mengapa kita mesti memilih antara budak dan tuannya, mengapa mesti memilih antara Barat yang kapitalis dan Timur yang menghamba? kita tidak perlu menginginkan yang satu atau yang lainnya: kita bisa menolak kedua-duannya sebab kedua-duanya sesungguhnya harus dan sedang menjadi masa silam ( 12/03/37)
bung, i agree, there’s always a reason behind it. a reason who made us today. learn more. think more. feel more.
for couple of weeks, (even it’s started some days before), i have a newest experience to be in new state and new look that catch in my eyes.
it’s the prison.
i’m still such normal person and don’t get any crimes. i and my fellows have to do research in there, and what we can expect from its state?
yes, alot assignments will crowd our daily days, emotional things will rush our brain and no matter it all occur, just trust, it can be handled. what we can expect from its state?
we need that excitement (indeed) nothing else. let’s just make it in fun way.
hard to handle others, which have own brain, heart, ego, and anything. so am i, i have too. so i prefer to handle my own self before
“We don’t look for an answer, we accept, and then life becomes much more intense, much more brilliant, because we understand that each minute, each step that we take, has a meaning that goes far beyond us as individuals. We realize that somewhere in time and space this question does have an answer. We realize that there is a reason for us being here, and for us, that is enough.”
paulo coelho
“…That day, for no particular reason, I decided to go for a little run. So I ran to the end of the road, and when I got there, I thought maybe I’d run to the end of town. And when I got there, I thought maybe I’d just run across Greenbow County. And I figured since I run this far, maybe I’d just run across the great state of Alabama. And that’s what I did I ran clear across Alabama. For no particular reason, I just kept on going. I ran clear to the ocean. And when I got there, I figured since I’d gone this far, I might as well turn around, just keep on going. When I got to another ocean, I figured since I’ve gone this far, I might as well just turn back, keep right on going. When I got tired, I slept. When I got hungry, I ate. When I had to go, you know, I went…” -Forrest Gump